Sebuah kado

Seorang kawan, Heri Chandrasantosa menghadiahkan aku dan istri beberapa buku sebagai kado pernikahan kami; diantaranya dua jilid catatan perjalanan Sigit Susanto, seorang anak aseli Boja, Semarang yang berkeliling dunia (bersama sang istri).

Aku membaca edisi perdana buku ini, entah beberapa tahun silam. Di kotak kumal kantor Manunggal, aku menikmati tulisan mas Sigit yang ringan, namun berisi. Kantong mahasiswa, buku itu tidak terbeli. Maklum masih banyak hal lain saat itu yang lebih penting.
"Banyak benda menarik menjadi cinderamata; tapi seorang diantara banyak kawan tahu: aku suka buku."
NB: Terima kasih banyak untuk Laluadaangin, Heri CS.

Sajak rumah 2ua

Sungguhnya kenangan tidak bersemayam di sebuah tempat; tapi jauh di dalam benak. maka ketika rumah tua-usang-reyot yang mulai berguguran gentingnya hendak dipugar; yang dirindu hanya visualisasi kenangan yang terpendam, dalam benak pemilik kenangan. entah itu teras-dapur-garasi, atau bahkan deretan genting; tempat dulu duduk menikmati kerlip kartika.

Sajak rumah tua

Mewarisi sebuah rumah tua penuh kenangan tidak serta merta membuat kita membuang benda-benda usang, mengganti cat pagar, dan menutup pintu bagi anggota keluarga jauh yang tidak pernah berjumpa, yang dulu menikmati secangkir teh menjelang petang tiba di berandanya.

Matre-linear

Bahwa dunia membutuhkan alat tukar yang diterima menciptakan ‘alat’ uang. Nilainya berbeda di setiap mata. Besarannya, meski berukuran serupa; tidak lantas membuatnya bernilai sama.
Nilai kertas pembuat ‘alat’ bahkan tidak semahal ‘uang’ per satuannya. Macam penilaian yang membuat belajar ilmu ekonomi tidak sia-sia.
Berapa ‘alat uang’ terbesar yang pernah kau punyai? Seberapa penting ‘alat’ tukar itu bagimu. Apa harga dirimu diukur dengan satuan yang sam denganku?
Jawablah kepada hatimu; Perlahan.

Dibuang sayang

Aku selalu berpikir dua tiga kali sebelum membuang koran. Selalu ada alasan tersendiri mempertahankannya. Banyak yang kudapat.
Bukankah lembaran-lembaran itu juga hasil kerja keras penulisnya. Ada peluh disana.
Terpaksa, malam ini menjadi kanibal. Mengambil seperlunya. Seperti dulu.
 
© Copyright : Alie Poedjakusuma